April24th, 2019 - Sehingga tanah akan mendapatkan beban yang sangat berat namun tanah tidak mampu menopangnya Dampak Tanah Longsor Dampak terjadinya tanah longsor dapat dibagi menjadi dua yaitu dampak positif dan dampak negatif 1 Dampak Positif Tanah Longsor Mampu meningkatkan kesadaran masyarakat pentingnya menjaga alam ketika terjadi tanah
1Tanah longsor (landslide) Untuk bahan ajar MPKT-B Oleh Tommy Ilyas Juli 20112 Tanah Longsor (landslide) 1. Pendahuluan
TheQuintet features five modern exclusive mid-rise condominium towers which are Arianna Tower, Brava Tower, Carmina Tower, Dante Tower and Ethel Tower. The total number of The Quintet units is 320 which are divided into 280 apartments and 40 penthouses. The built-up area for the apartments ranges between 928 to 1,290 square feet.
MANADO Tanah longsor melanda beberapa wilayah di Kota Manado, yakni wilayah Tuminting dan Bunaken, Minggu, 18 Maret 2018.. Longsor di Kecamatan Bunaken, mengakibatkan satu orang warga, Sonny Bayah (41), warga Lingkungan II Kelurahan Bailang meninggal dunia karena tertimbun longsoran.
Berikutini adalah beberapa contoh descriptive text tentang tourism place (tempat wisata) dalam bahasa inggris yang disertai dengan Hingga Saat ini PKG ini telah melatih sekitar 300 ekor gajah yang sudah disebar ke seluruh penjuru Tanah Air. Di Taman Nasional Way Kambas ini terdapat hewan yang hampir punah di antaranya Badak sumatera, Gajah
DampakPositif Longsor bencana alam berdampak positif atau negatif terhadap, melihat lagi dampak banjir dan longsor yang melanda bantul, jelaskan dampak positif dan negatif dari gempa bumi, free download here pdfsdocuments2 com, dampak positif dan negatif dari bencana tsunami banjir, banjir penyebab dampak dan cara mengatasi jagad id, 8 dampak tenaga endogen positif dan negatif secara singkat
.
Analisis kejadian tanah longsor ini dilatarbelakangi oleh banyaknya bencana yang terjadi di Wonosobo. Tanah longsor merupakan salah satu bencana yang sering terjadi di daerah pegunungan, khususnya desa Tieng yang ada di Wonosobo. Masyarakat di daerah tersebut diantisipasi untuk selalu waspada terhadap bencana tanah longsor yang selalu mengancam di saat datangnya musim hujan. Cara penanganan yang tepat saat dan setelah terjadinya bencana tanah longsor merupakan hal yang sangat penting dimiliki oleh warga masyarakat sekitar daerah kejadian tersebut. Teknik survei dipakai dalam menganalisis bencana tanah longsor yang ada di daerah Wonosobo ini. Banyak korban jiwa yang meninggal, luka-luka dan hilang akibat bencana tanah longsor ini. Mitigasi bencana tanah longsor yang dilakukan pemerintah dan warga masyarakat sekitar bencana yang juga dibantu oleh para pecinta alam adalah dengan melakukan reboisasi dengan tanaman yang bisa menyerap banyak air dan menahan tanah supaya tidak longsor lagi. Kegiatan reboisasi ini disampaikan oleh pemerintah ke warga masyarakat sekitar kejadian tanah longsor melalui kegiatan penyuluhan tanggap bencana. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free P-ISSN 2442-9910E-ISSN 2548-642XS P E K T R A Jurnal Kajian Pendidikan Sains52 2019DOI BENCANA TANAH LONGSOR SERTA MITIGASINYAFatiatun1*, Firdaus1, Sri Jumini1, Nugroho Prasetya Adi11 Pendidikan Fisika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Sains Al-Qur’an, Mojotengah,56351, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia*fatia Handphone 085329632436Dikirimkan 26/09/2019. Diterima 30/09/2019 Dipublikasikan 12/10/2019Abstrak Analisis kejadian tanah longsor ini dilatarbelakangi oleh banyaknya bencana yang terjadi di Wonosobo. Tanahlongsor merupakan salah satu bencana yang sering terjadi di daerah pegunungan, khususnya desa Tieng yang adadi Wonosobo. Masyarakat di daerah tersebut diantisipasi untuk selalu waspada terhadap bencana tanah longsoryang selalu mengancam di saat datangnya musim hujan. Cara penanganan yang tepat saat dan setelah terjadinyabencana tanah longsor merupakan hal yang sangat penting dimiliki oleh warga masyarakat sekitar daerahkejadian tersebut. Teknik survei dipakai dalam menganalisis bencana tanah longsor yang ada di daerahWonosobo ini. Banyak korban jiwa yang meninggal, luka-luka dan hilang akibat bencana tanah longsor bencana tanah longsor yang dilakukan pemerintah dan warga masyarakat sekitar bencana yang jugadibantu oleh para pecinta alam adalah dengan melakukan reboisasi dengan tanaman yang bisa menyerap banyakair dan menahan tanah supaya tidak longsor lagi. Kegiatan reboisasi ini disampaikan oleh pemerintah ke wargamasyarakat sekitar kejadian tanah longsor melalui kegiatan penyuluhan tanggap Kunci Tanah longsor, Mitigasi bencanaPENDAHULUANIndonesia termasuk dalam daerah tropisyang mempunyai curah hujan tinggi dantopografi yang bervariasi [1]. Banyak bencanaseperti letusan gunung api, gempa bumi, tanahlongsor dan banjir yang terjadi di Indonesiaberdasarkan geologis, geomorfologis danklimatologis. Bencana-bencana tersebutdisebabkan oleh faktor alam dan juga satu bencana yang sering terjadi didaerah Wonosobo yang memiliki kondisikemiringan lereng yang curam dan didominasioleh pegunungan dan perbukitan yaitu tanahlongsor. Tanah longsor merupakan pergerakantanah, batuan, kerikil atau percampurankeduanya yang menuruni lereng akibat dariterganggunya kestabilan tanah [2]. Proses terjadinya tanah longsor yaitudimulai dengan peresapan air ke dalam tanahyang mengakibatkan penambahan bobot air yang meresap ke dalam tanah tersebutsampai ke tanah yang kedap air bidanggelincir, maka akan menjadikan kondisi tanahmenjadi licin. Oleh karena itu, tanah pelapukanyang ada di atasnya akan menjadi rentanterjadi longsor [3]. Pada umumnya, tanahlongsor disebabkan oleh tiga hal. Diantaranyayaitu faktor dakhil, kondisi luar dari suatumedan dan faktor pemicu lainnya [4]. Adapun struktur geologi, permeabilitastanah dan kedalaman pelapukan batuantermasuk dalam faktor dakhil. Sementara itu,kemiringan, penggunaan lahan dan banyaknyadinding terjal ini masuk dalam kategoripenyebab tanah longsor yang dari kondisi luarsuatu medan [5]. Faktor pemicu lainnya yaitu134 S P E K T R A Jurnal Kajian Pendidikan Sains 52 2019adanya curah hujan tinggi dan terjadinyagempa bumi. Berdasarkan hal-hal tersebut,pada dasarnya tanah longsor itu disebabkanoleh dua faktor utama yaitu faktor alam danmanusia [6].Ada 15 kecamatan yang ada di Wonosobodan ada sekitar 100 desa di dalamnya yangmasuk dalam daerah rawan tanah pemetaan yang dilakukan olehbadan penanggulangan bencana daerahBPBD dan kesatuan bangsa, politik danperlindungan masyarakat kesbangpolinmasmenyatakan bahwa ada 4 desa yang rawanlongsor di kecamatan Sapuran. Desa-desa yangrawan longsor lainnya yaitu 7 desa dikecamatan Kertek, 7 desa di kecamatanWonosobo, 5 desa di kecamatan Kepil, 14 desadi kecamatan Kaliwiro, 4 desa di Selomerto, 7desa di kecamatan Sukoharjo, 11 desa diWadaslintang, 10 desa di kecamatanWatumalang, 6 desa di kecamatan Leksono, 4desa di kecamatan Kalikajar, 6 desa dikecamatan Kejajar, 4 desa di kecamatanGarung, 6 desa di kecamatan Mojotengah dan5 desa di kecamatan Kalibawang. Salah satu daerah rawan longsor tersebutyaitu kecamatan kejajar. Lahan di daerahtersebut rata-rata tergolong curam dan banyakdimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Padatahun 1985-1995 di daerah kejajar ini sangatpesat penanaman kentang yang tidak mengenalmusim [7]. Berdasarkan hal tersebut, banyakwarga masyarakat kejajar yang inginmengubah lahan pertanian menjadi lahankentang dan juga melakukan pembukaan hutan[8]. Banyak pohon besar ditebang dalampembukaan lahan baru ini dan digantikandengan tanaman kentang. Hal inimengakibatkan infiltrasi dan intersepsi airhujan semakin berkurang sehingga potensiterjadinya tanah longsor semakin besar. Oleh karena itu, bencana tanah longsor iniselalu terjadi hampir setiap tahun. Salahsatunya terjadi pada bulan Januari tahun 2010di desa Tieng, Kejajar dengan korbanmeninggal sejumlah 6 orang [9]. Sekitarsetahun kemudian pada bulan Desember tahun2011 juga terjadi bencana tanah longsor yanglebih parah. Bencana tanah longsor ini diringidengan banjir bandang dan longsoran kecil lainyang membahayakan warga bencana tanah longsor yangterjadi tersebut, perlu adanya mitigasi yangharus dilakukan oleh pemerintah danmasyarakat sekitar. Mitigasi bencana tersebutperlu dilakukan saat terjadinya bencana, dansetelah bencana tanah longsor tersebut ini dilakukan untuk mengantisipasibencana tanah longsor susulan dan akibat yangditimbulkan dari bencana tersebut. Mitigasi bencana itu dapat dibagi menjadidua jenis, yaitu mitigasi struktural dan non-struktural [10-11]. Mitigasi struktural meliputipembuatan infrastruktur yang kuat yang dapatmeminimalisasi dampak dari tanah tanah longsor dan pelatihan kepadamasyarakat pada daerah rawan tanah longsormengenai mitigasi-mitigasi yang harusdiakukan saat terjadi dan setelah terjadinyabencana tanah longsor ini termasuk dalamkategori mitigasi umumnya ada lima tahapan mitigasibencana tanah longsor yaitu meliputipemetaan, penyelidikan, pemeriksaan,pemantauan dan sosialisasi [10, 12]. Tahappemetaan ini sangat penting dilakukan dengantujuan untuk mengetahui daerah-daerah manasaja yang termasuk dalam rawan bencana tanahlongsor. Setelah itu, tahap penyelidikan danpemeriksaan juga sangat penting dalammempelajari penyebab dan dampak yangditimbulkan dari bencana tersebut [13]. Hasil 135 S P E K T R A Jurnal Kajian Pendidikan Sains 52 2019dari penyelidikan dan pemeriksaan ini akansangat berguna dalam penanggulanganbencana dan pengembangan wilayahkedepannya. Setelah itu, daerah rawan bencanaini harus selalu dipantau setiap waktu dengantujuan untuk mengurangi dampak yang akanditimbulkan dari bencana tersebut. Tahapanyang terakhir yaitu sosialisasi yang harussecara rutin dilakukan oleh pihak pemerintahpusat ke pemerintah daerah dan tersebut dapat berupa poster,booklet atau penyampaikan secara langsungdari pemerintah ke warga masyarakat daerahrawan tanah longsor. METODEAnalisis bencana tanah longsor inidilakukan dengan metode survei untukmengetahui kondisi fisik di sampel dalam analisis bencanaini yaitu seluruh warga yang ada di desa Tieng,Kejajar, Wonosobo. Data yang dipakai dalamanalisis bencana tanah longsor ini berupapengetahuan masyarakat yang diperoleh darihasil wawancara perangkat desa dan wargasekitar yang terkena dampak dari bencanatanah longsor ini. HASIL DAN PEMBAHASANSecara geografis, desa Tieng yangmerupakan lokasi bencana tanah longsor yangtelah dilakukan survei lapangan terletak padakoordinat 109 56’ 15” BT dan 07 14’ 8,9” hasil survei yang telah dilakukan,bencana tanah longsor yang terjadi di lerenggunung Pakuwojo ini juga mengakibatkanterjadinya banjir bandang yang mengandungtanah hasil longsoran di sungai tanah longsor ini disebabkan olehhujan lebat yang menguyur daerah tersebut danberlangsung dari pagi hingga siang hari. Efek yang ditimbulkan dari bencana tanahlongsor yang juga mengakibatkan banjirbandang ini sangat banyak dan hingga adayang meninggal dunia. Diantara korbantersebut yaitu ada 11 orang meninggal duniadan beberapa orang banyak yang ditemukansebagian tubuhnya saja, 7 orang luka berat dan5 orang luka ringan. Selain itu, banyak jugainfrastruktur yang rusak seperti 13 buah rumahhanyut karena banjir bandang dan 14 rumahrusak berat. Ada sekitar 40 rumah disekitarnyayang juga terancam jadi korban jika ada tanahlongsor dan banjir bandang akibat tanahlongsor susulan. Ada sekitar ha lahankentang dan bawang yang rusak akibatbencana ini. Kondisi lereng gunung Pakuwojo yangterjadi longsor yaitu sebagian besar hutannyasudah gundul. Bagian tengah lereng gunungtersebut juga sudah dialihfungsikan olehmasyarakat sekitar menjadi lahan kebunkentang. Sementara lereng gunung Pakuwojobagian bawah dan lereng yang agak datardimanfaatkan warga sekitar menjadipemukiman yang dinamakan dusun hasil observasi, hampir semuabagian lereng gunung Pakuwojo dari bagianatas hingga kaki lereng gunung ini tidakdijumpai pohon atau tanaman yang memilikiakar kuat. Oleh karena itu, lereng gunung inisangat rawan terjadi tanah longsor karena tidakadanya pengikat tanah, sehinggamengakibatkan banyak korban jiwa dankerugian secara materil. Berdasarkan penyelidikan danpemeriksaan yang telah dilakukan oleh pusatvulkanologi dan mitigasi bencana geologiprovinsi Jawa Tengah, bagian lereng atasgunung Pakuwojo terdapat dua lokasi gerakantanah yang berdekatan. Diantaranya yaitugerakan tanah yang berupa longsoran bahanrombakan seperti lumpur, pasir dan kerikil 136 S P E K T R A Jurnal Kajian Pendidikan Sains 52 2019yang ketika terjadi longsor akan menutupibagian dasar kali Ngesong yang ada dibawahnya. Saat terjadi hujan lebat yangberlangsung lama akan mengakibatkan tanahlongsor dari lereng gunung ini yang kemudianmaterialnya akan menuju ke sungai danmengakibatkan banjir bandang. Jadi efek yang ditimbulkan dari tanahlongsor ini sangat besar karena sekaligus adabencana banjir bandang yang ditimbulkan daribencana tanah longsor ini. Posisi lereng sungaiyang terjal di bagian hulu juga merupakansalah satu penyebab dari adanya bencana banjirbandang yang sangat luar biasa efeknya. Posisilereng sungai inilah yang mengakibatkanbanjir bandang yang mengandung lumpur danmenimpa semua yang ada di bantaran maupunsekitar sungai. Berdasarkan hal tersebut, ada beberapamitigasi bencana yang dapat dilakukan yaitumitigasi struktural, non-struktural danpeminimalan resiko. Mitigasi struktural itudilakukan dengan mengurangi sudutkemiringan lereng dengan membuat sistemterasering. Selain itu, pembangunan dindingpenahan yang berasal dari batuan dan tanahjuga dibangun untuk mengurangi bencanatanah longsor dan efek yang mitigasi non-struktural, daerah rawanbencana tanah longsor ditandai dengan adanyarambu-rambu. Mitigasi non-struktural ini jugadilakukan dengan meningkatkan kesadaranmasyarakat daerah rawan tanah longsor. Halini dilakukan untuk mengetahui tanda-tandaakan terjadinya tanah longsor, penyebabnya,cara mengurangi dan mengatasi bahaya tanahlongsor. Mitigasi bencana yang terakhir yaitupeminimalisasi resiko dengan melakukanpenataan ulang dan pengalihan pemanfaatanlahan berdasarkan bencana tanah longsor yangtelah terjadi. Sebelum pelaksaan kegiatan ini,pnyusunan peta bahaya tanah longsor perludilakukan sebagai pedomannya. Mitigasi bencana yang dilakukan paascabencana tanah longsor di lereng gunungPakuwojo yang terletak di desa Tieng,kecamatan Kejajar, Wonosobo adalah denganmeminta warga masyarakat di daerah tersebutuntuk mengungsi. Warga masyarakat yangrumahnya rusak parah atau ringan dihimbauoleh pemerintah daerah Wonosobo untukmengungsi di tempat yang lebih aman sepertidi balai desa Tieng. Para warga masyarakatyang tidak memiliki tempat tinggal inimengungsi di balai desa tersebut sampaisekitar dua bulan. Setelah kejadian bencana tanah longsorini berbagai bantuan muncul dari berbagaipihak seperti bantuan dari pemerintah pusatnasional, daerah maupun dari bantuan pribadiwarga masyarakat sekitar. Dalam hal ini,pemerintah pusat memberikan bantuan kepadapara korban bencana tanah longsor beruparumah siap huni dengan ukuran 3x6 m2. Wargamasyarakat korban bencana yang menempatirumah bantuan ini hanya diminta untukmembayar sebesar 6 juta. Harga ini sangatterjangkau karena dengan harga segitu sudahdapat tanah beserta rumah yang siap huni danbisa dipakai sampai kapanpun dengan lokasiyang lebih warga masyarakat korban bencanatanah longsor yang rusak ringan juga tidakditempati lagi oleh pemilik rumah. Hal inidilakukan karena warga masyarakat khawatiraka nada tanah longsor susulan/bencanalainnya. Rumah-rumah tersebut hanyadimanfaatkan oleh warga untuk kandangternak. Selain itu, warga masyarakat yangterkena dampak bencana tanah longsor inibersama-sama melakukan reboisasi denganmenggunakan tanaman/pohon yang lebih bisamenyerap air dan menahan tanah dari 137 S P E K T R A Jurnal Kajian Pendidikan Sains 52 2019longsoran. Kegiatan reboisasi ini juga diadakandengan melakukan kerjasama dengan parapecinta alam. Dengan adanya bencana tanah longsoryang telah terjadi dan memakan banyak korbanjiwa sangat membuat warga masyarakat daerahtersebut trauma, terutama bagi anak-anak bencana ini ada anak kecil yanganggota keluarganya meninggal dunia hinggatiga orang. Hal inilah yang membuat traumabagi anak tersebut sampai sekarang. Olehkarena itu, mitigasi lain yang dilakukanpemerintah yaitu dengan melakukan sosialisasikepada warga masyarakat daerah bencana danpenyembuhan trauma bagi anak-anak pascabencana tanah longsor tersebut. PENUTUPSimpulanDesa Tieng adalah salah satu daerah diWonosobo yang rawan akan terjadinyabencana tanah longsor. Bencana tanah longsorini menyebabkan 11 korban meninggal, 7orang luka berat dan 5 orang luka itu, banyak juga infrastruktur yangrusak seperti 13 buah rumah hanyut karenabanjir bandang dan 14 rumah rusak berat. Adasekitar 40 rumah disekitarnya yang jugaterancam jadi korban jika ada tanah longsordan banjir bandang akibat tanah longsorsusulan. Ada sekitar ha lahan kentang danbawang yang rusak akibat bencana mitigasi bencana yang dilakukanuntuk mengatasi bencana tanah longsor iniyaitu dengan melakukan mitigasi, non-struktural dan peminimalisasi resiko dengan menggunakantanaman/pohon yang lebih bisa menyerap airdan menahan tanah dari longsoran jugadilakukan untuk mitigasi bencana tanahlongsor ini. Mitigasi lain yang dilakukan olehpemerintah yaitu dengan melakukan kegiatansosialisasi kepada warga masyarakat dan anak-anak korban bencana ini. Untuk anak-anak,penyembuhan trauma itu sangat penting karenaakan mempengaruhi kepribadiannya di masadepan. SaranAnalisis mitigasi bencana tanah longsor iniperlu dikembangkan lagi untuk daerah-daerahlain dengan kondisi lingkungan yang berbeda. DAFTAR PUSTAKA[1]. Karyono, T. H. 2001. Wujud KotaTropis di Indonesia Suatu PendekatanIklim, Lingkungan dan Energi. DimensiTeknik Arsitektur. 291, 141-146. [2]. Cruden, D. M. 1991. A SimpleDefinition of a Landslide. Bulletin of theInternational of Engineering Geology,43.[3]. Sutarno. 2012. Studi KerentananGerakan Massa Batuan dan DaerahRawan Longsor Lahan di KabupatenPurworejo. Jurnal Ilmu Tanah danAgroklimatologi, 92, 131-137.[4]. Arsyad, U., Barkey, R., Wahyuni. DanMatandung, K. K. 2018. KarakteristikTanah Longsor di Daerah Aliran SungaiTangka. Jurnal Hutan dan Masyarakat,101, 203-214.[5]. Susanti, P. D., Miardini, A. dan Harjadi,B. 2017. Analisis Kerentanan TanahLongsor Sebagai Dasar Mitigasi diKabupaten Banjarnegara. JurnalPenelitian Pengelolaan Daerah AliranSungai, 11, 49-59.[6]. Juhadi, Setyaningsih, W. dan Kurniasari,N. 2016. Pola Perilaku Masyarakatdalam Pengurangan Resiko BencanaTanah Longsor di KecamatanBanjarwangu Kabupaten Banjarnegara 138 S P E K T R A Jurnal Kajian Pendidikan Sains 52 2019Jawa Tengah. Jurnal Geografi, 132,217-224.[7]. Munandar, A. 2016. Analisis UsahaTani Kentang di Desa SembunganKecamatan Kejajar KabupatenWonosobo Jawa Tengah. SPATIALWahana Komunikasi dan InformasiGeografi, 151, 34-39.[8]. Nugraha, S. B., Akhsin, B. dan Benardi,A. I. 2015. Pemanfaatan Teknologi Siguntuk Pemetaan Tingkat AncamanLongsor di Kecamatan Kejajar,Wonosobo. Jurnal Geografi, 122, 203-221.[9]. Wacano, D., Hadmoko, I. M., Nurohman, S.,Mujianto, Satriyo, A. 2013.Identifikasi Tipologi Longsor untukAnalisis Mitigasi Bencana di DusunSidorejo, Desa Tieng, Kejajar,Wonosono. Chapter Buku Seri BungaRampai, 99-107, ISSN 978-602-7797-25-3.[10]. Rahman, A. Z. 2015. Kajian MitigasiBancana Tanah Longsor di KabupatenBanjarnegara. Jurnal Manajemen danKebijakan Publik, 11.[11]. Mubekti dan Alhasanah, F. 2008.Mitigasi daerah Rawan Tanah LongsorMenggunakan Teknik Pemodelan SistemInformasi Geografis. Jurnal TeknikLingkungan, 92, 118-126.[12]. Ikqra. 2013. Analisis Bentuk LahanLandform untuk Penilaian Bahaya danRisiko Longsor di Pulau TernateProvinsi Maluku Utara. JurnalPenanggulangan Bencana, 42, 35-46.[13]. Awaliyah, N. Sarjanti, E. dan Suwarno.2014. Pengetahuan Masyarakat dalamMitigasi Bencana Banjir di Desa PenolihKecamatan Kaligondang KabupatenPurbalingga. Geoedukasi, 32, 92-95. 139 ... Bencana longsor dapat terjadi akibat dua faktor, yaitu faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam yang mempengaruhi terjadinya longsor adalah kemiringan lereng yang curam dengan kemiringan lebih dari 40° dan terganggunya kestabilan tanah yang diakibatkan oleh pergerakan tanah, batuan, atau pencampuran keduanya yang menuruni lereng Fatiatun et al., 2019. Faktor manusia juga dapat mempengaruhi terjadinya longsor. ...Landslide is the process of moving slope-forming material that moves out of the slope. Landslides cause adverse impacts, such as damage to residences, public facilities, death tolls, and damage to agricultural land. Factors for landslides are influenced by disturbing slope stability due to steep slopes, high rainfall intensity, and movement of soil, rock, or a mixture of both. The research was conducted at Agro Techno Park of Brawijaya University silt loam texture soil and the experimental field of Faculty of Agriculture Brawijaya University clay texture soil. The landslide simulation tool used acrylic 100 cm x 50 cm x 75 cm, with an aluminum plate as a base for adjusting the slope. Artificial rain was set to be stable at an intensity of 70 mm hour-1. This study used a combination of three factors, namely soil texture C silt loam and J clay; slope L1 40° and L2 50°; and surface rock B1 25% and B2 50%, so that there were eight treatments with ten repetitions. The landslide duration and volume were measured. The data obtained were then statistically analyzed through the normality test and the unpaired t-test. The results show that increasing slope gradient from 40° to 50° on silty loam texture with similar rock content at the soil surface resulted in 6 times faster and two times larger landslide volume. At a very steep slope, the effect of soil texture and % rocks at the surface would be smaller on landslide duration but became more significant on landslide volume. Generally, the landslide factors can be ranked from the most significant effect as follows slope gradient, soil texture, and rocks coverage at the occur as a result of ground movement on steep slopes, and the high humidity moisture, and the sparse vegetation open land. The Local conditions is an interrelated components. The process of landslides can be explained that the water soak into the soil will add weight to the ground. If the water penetrates the soil acts as a watertight sliding plane, the ground becomes slippery and soil weathering on it will move to follow the slope. This study aims to determine the type of landslide, landslide characteristics and landslides causing factors. This research was conducted in September 2015 in Watershed Tangka. The study consisted of three stages, namely the determination of the coordinates of the location of the landslide, landslide determining the location of the sample, the determination of the type of landslide, slope measurements, measurements of the dimensions of landslide and infiltration. Research results obtained are the coordinates of the location of as many as 17 points landslide, landslide types of translation and rotation, land cover and soil texture. There is no difference in the type of soil, infiltration rate, vegetation, geologi, slope and rainfall in both types of landslide are found. David Milne CrudenA landslide is the movement of a mass of rock, earth or debris down a slope. Tri Harso KaryonoAlmost all the Indonesian cities are designed someway in which local climate, environmental aspect and energy conservation have been paid little inttention by the architecs and urban designers. The result is that most of the Indonesian cities have provided no good place for people living in. This articles tries to explore all the possibility aspects of climatic, environmental and energy, in which they may influence to the design of humid tropical cities of Indonesia. Some strategies are proposed to achieve a better urban design in terms of climate, environment and energy conservation. Abstract in Bahasa Indonesia Sebagian besar kota di Indonesia dirancang tanpa memperhatikan beberapa aspek seperti halnya iklim, kesehatan lingkungan dan penghematan energi. Akibatnya, beberapa kota tersebut menjadi tidak cukup nyaman bagi warga setempat untuk tinggal dan bekerja. Tulisan ini dimaksudkan untuk menganalisis berbagai aspek yakni, iklim, lingkungan dan energy, yang berpengaruh terhadap rancangan kota tropis di Indonesia. Beberapa strategi pemecahan yang berkaitan dengan aspek tersebut di atas dicoba untuk ditawarkan melalui tulisan ini. Kata kunci energi, iklim, Indonesia, kota tropis basah, MunandarABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kentang dan kelayakan usaha tani kentang di Desa Sembungan Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah. Penelitian dilakukan pada Bulan April-September 2015. Penelitian dilakukan di Desa Sembungan sengaja dilakukan karena desa ini penduduknya mengusahakan kentang sebagai hasil pertanian utama. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan pendekatan survey. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani pengolah lahan tanaman kentang di Desa Sembungan yaitu sebesar 30 petani dengan luas lahan garapan yang bervariasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan sistem acak berlapis sebanding berdasarkan luas penguasaan lahan. Analisis data penelitian dilakukan secara deskriptif yang berupa perhitungan persamaan matematis. Berdasarkan penelitian faktor yang mempengaruhi hasil panen tanaman kentang di daerah penelitian dari tabel diperoleh nilai r square sebesar 0,994 yang artinya sebesar 99,4% hasil panen dipengaruhi oleh pemilihan bibit, pupuk kandang, pupuk ZA, Pupuk KC, pengggunaan pestisida, penggunaan fungisida dan penggunaan tenaga kerja yang terampil. Faktor yang tidak mempengaruhi hasil produksi kentang yaitu luas lahan, penggunaan pupuk TSP, NPK. Diketahui bahwa rata-rata RC yaitu 1,5 artinya secara rata-rata budidaya kentang di daerah penelitian layak dilakukan. Kata Kunci Faktor, Produksi, Kentang, Usahatani Amni Zarkasyi RahmanAll disasters experienced by Indonesia in the last years has developed anawareness of the fragility and vulnerability. At this time, the disastermanagement is currently insufficient anymore. The disaster management gain anew dimension with UU 24/ 2007 and followed some related program implemented by BPBD Banjarnegara includes Structuraland Non Structural Mitigation has been completed well. For example, disasterdatabase, installation of Early Warning System EWS, information andsocialization, training and disaster the future, mitigation will be focused on public education. Thegovernment should implement the hazard maps, environmental improvement,evacuation route, installation of low-cost EWS at all location, and relocation. inadditon, whole villages must become village disaster response desa tanggapbencana.Key words landslides; structural mitigation; non structural MubektiLandslide is the main natural disaster in the study area of North Sumedang and South Sumedang sub-districts. The spatial distribution of landslide hazard and risk are not available yet that important for decision making. The aim of research is to providegeographic information system technology for developing a model for landslide hazard mitigation. The results show that a part of the area in the North Sumedang and South Sumedang subdistrict has moderate class covering Ha 65,5% and high landslide hazard is covering Ha 21,67%, low landslide hazard zone = Ha 12,16% and very low landslide hazard 85,69 Ha 0,66%. By combining landslide hazard and property value, a prediction of landslide risk was produced. Despite the majority of the area has low risk class Ha/74,07%, but the highrisk area occurred in minimal places 86,44 Ha/0,67%. This phenomena showed that area with high potential level of landslide hazard is not always having a high value of risk. Since the risk calculation is determined by properties value such asinfrastructure, road network and land use. While the landslide hazardous level is determined by natural factors such as slope, soil type, geology and land is a hydrometeorologycal disaster that usually happens in Indonesia. The purpose of this study was to determine the level of landslide vulnerability in Banjarnegara District. This study employed survey and descriptive quantitative methods by using a formula of landslide vulnerability, with variables natural and management factors. The analysis used in this study was overlaying the predetermined formula and weighting it. The results indicated a variety of vulnerability classes, which were 1 non-vulnerable zone of ha 2 slightly vulnerable zone of 7, ha 3 fairly vulnerable zone of 88, ha 4 vulnerable zone of 10, ha and 5 very vulnerable zone of ha The dominant parameters for landslides in Bajarnegara were rain, geology and regolith. Mitigation techniques employed in those areas should be based on community-self-supporting mitigation through the development of disaster resilient villages. Disaster resilient village is a village that is responsive and can minimize disaster risks through adaptation. Several measures can be done independently autonomously by the community including increase the alertness during rainy period, seal all cracked soil due to the fault movement, and protect the soils through slope stabilization and protection of slopes.Studi Kerentanan Gerakan Massa Batuan dan Daerah Rawan Longsor Lahan di Kabupaten PurworejoSutarno. 2012. Studi Kerentanan Gerakan Massa Batuan dan Daerah Rawan Longsor Lahan di Kabupaten Purworejo. Jurnal Ilmu Tanah dan Agroklimatologi, 92, Perilaku Masyarakat dalam Pengurangan Resiko Bencana Tanah Longsor di Kecamatan Banjarwangu Kabupaten Banjarnegara Jawa TengahJuhadiW SetyaningsihN KurniasariJuhadi, Setyaningsih, W. dan Kurniasari, N. 2016. Pola Perilaku Masyarakat dalam Pengurangan Resiko Bencana Tanah Longsor di Kecamatan Banjarwangu Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah. Jurnal Geografi, 132, Teknologi Sig untuk Pemetaan Tingkat Ancaman Longsor di Kecamatan KejajarS B NugrahaB AkhsinA I BenardiNugraha, S. B., Akhsin, B. dan Benardi, A. I. 2015. Pemanfaatan Teknologi Sig untuk Pemetaan Tingkat Ancaman Longsor di Kecamatan Kejajar, Wonosobo. Jurnal Geografi, 122, 203-221.
Contoh Explanation Text Tentang Tanah Longsor – Bencana tanah longsor sering terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya di daerah pegunungan. Namun, tahukah anda bagaimana tanah longsor dapat terjadi? Berikut ini adalah penjelasan singkat tentang bagaimana terjadinya tanah longsor dalam sebuah explanation text. Landslide Landslide is a geological process that happen because of the movement of rock mass or soil such as the fall of rocks or clumps of soil which detached from the main section of the mountain or hill. Landslide usually happen in the mountainous areas. Mostly landslides happen because of earthquake that moves the underground plate which caused the element or the subsurface plate displaced, so it is causing fraction and landslide. High rainfall during the rainy season will also caused landslide. Long duration of the rain will occur the water evaporation on the ground surface in large amounts. The evaporation will make pore or soil cavity, then there would be cracks on the ground. When rain falls, the rain will infiltrate the cracks. Then, the water will accumulated at the bottom of the slope and caused lateral movement which occur landslide. Landslide often caused a lot of disadvantages. Landslide can make people lose their house, lands, and properties because buried by the landslide. The worst is the loss of life because they can’t run from the landslide. So, to prevent landslide to happen, start to care about our environtment. We can start by planting tree and do reforestation. Plus, do not throw trash carelessly to keep our environment clean. So, we would prevent flood and landslide during the rainy season. Arti dalam Bahasa Indonesia Tanah Longsor Tanah longsor adalah suatu proses geologi yang terjadi karena pergerakan massa bebatuan atau tanah seperti jatuhnya bebatuan atau segumpal tanah yang terpisah dari bagian utama pegunungan atau bukit. Tanah longsor biasanya terjadi di daerah pegunungan. Kebanyakan dari tanah longsor terjadi karena gempa bumi yang menggerakkan lempeng bawah tanah yang menyebabkan elemen atau lempeng permukaan bumi bergeser, sehingga menyebabkan keretakan dan tanah longsor. Tingginya curah hujan selama musim penghujan juga dapat menimbulkan tanah longsor. Lamanya durasi hujan akan menimbulkan uap air di permukaan tanah dalam jumlah yang besar. Uap air ini akan memunculkan pori-pori atau rongga tanah, kemudian akan menimbulkan retakan pada tanah. Ketika hujan turun, hujan akan menyusup ke dalam retakan tersebut. Kemudian, air akan terakumulasi di dasar lereng dan menyebabkan pergerakan lateral yang akhirnya menyebabkan tanah longsor. Tanah longsor sering menimbulkan banyak kerugian. Tanah longsor dapat membuat orang-orang kehilangan rumah, tanah, dan harta karena tertimbun tanah longsor. Yang paling parah adalah jatuhnya korban jiwa karena mereka tidak dapat menyelematkan diri dari tanah longsor. Jadi, untuk mencegah terjadinya tanah longsor, mulailah untuk peduli pada lingkungan. Kita dapat memulai dengan menanam pohon dan reboisasi hutan. Dirambah lagi, jangan membuang sampah sembarangan untuk menjaga lingkungan tetap bersih. Sehingga kita dapat mencegah banjir dan tanah longsor selama musim penghujan.
Contoh Explanation Text Adapun Tanah Longsor – Bencana lahan longsor cerbak terjadi di bilang wilayah di Indonesia, khususnya di daerah gunung-gemunung. Sekadar, tahukah anda bagaimana tanah longsor dapat terjadi? Berikut ini adalah penjelasan singkat tentang bagaimana terjadinya lahan longsor dalam sebuah explanation text. Contoh Explanation Text Akan halnya Petak Longsor Landslide Landslide is a geological process that happen because of the movement of rock mass or soil such as the fall of rocks or clumps of soil which detached from the main section of the mountain or hill. Landslide usually happen in the mountainous areas. Mostly landslides happen because of earthquake that moves the underground plate which caused the element or the subsurface plate displaced, so it is causing fraction and landslide. High rainfall during the rainy season will also caused landslide. Long duration of the rain will occur the water evaporation on the ground surface in large amounts. The evaporation will make pore or soil cavity, then there would be cracks on the ground. When rain falls, the rain will infiltrate the cracks. Then, the water will accumulated at the bottom of the slope and caused lateral movement which occur landslide. Landslide often caused a lot of disadvantages. Landslide can make people lose their house, lands, and properties because buried by the landslide. The worst is the loss of life because they can’falak run from the landslide. So, to prevent landslide to happen, tiba to care about our environtment. We can menginjak by planting tree and do reforestation. Plus, do titinada throw trash carelessly to keep our environment clean. So, we would prevent flood and landslide during the rainy season. Arti internal Bahasa Indonesia Tanah Longsor Tanah longsor adalah suatu proses geologi yang terjadi karena rayapan komposit bebatuan atau lahan seperti jatuhnya bebatuan alias segumpal petak yang terpisah pecah bagian terdahulu pegunungan atau bukit. Tanah longsor galibnya terjadi di area pegunungan. Rata-rata dari tanah longsor terjadi karena lindu nan menggerakkan lempeng bawah kapling nan menyebabkan anasir ataupun lempeng permukaan mayapada bergeser, sehingga menyebabkan kerenggangan dan tanah longsor. Tingginya curah hujan sejauh musim penghujan pun boleh menimbulkan tanah longsor. Lamanya durasi hujan akan menimbulkan uap air di latar persil dalam jumlah yang segara. Embun ini akan menyampaikan pori-pori atau sinus tanah, kemudian akan menimbulkan retakan pada tanah. Ketika hujan abu roboh, hujan angin akan menyusup ke dalam retakan tersebut. Kemudian, air akan terakumulasi di dasar lereng dan menyebabkan pergerakan lateral nan kesudahannya menyebabkan tanah longsor. Tanah longsor sayang menimbulkan banyak ketakberuntungan. Lahan longsor boleh membentuk orang-orang kekeringan apartemen, tanah, dan harta karena tertimbus tanah longsor. Nan minimum parah adalah jatuhnya korban roh karena mereka tidak dapat menyelematkan diri berpangkal kapling longsor. Jadi, untuk mencegah terjadinya tanah longsor, mulailah untuk peduli pada lingkungan. Kita bisa memulai dengan menanam pohon dan penanaman hutan. Dirambah lagi, jangan membuang sampah sembarangan buat menjaga lingkungan kukuh bersih. Sehingga kita dapat mencegah banjir dan persil longsor selama musim penghujan.
Indonesia merupakan negara dengan risiko bencana tanah longsor yang tinggi disebabkan faktor iklim dan cuaca yang mendominasi lebih dari 90%. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis secara bibliometrik terhadap topik tanah longsor di Indonesia berdasarkan bidang ilmu sains dan teknik. Penelitian ini terdiri atas tiga tahapan yaitu 1 pengumpulan data penelitian; 2 memvisualisasikan bibliografi yang diperoleh pada tahap pertama; dan 3 analisis hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis blibiometrik dapat digunakan untuk menganalisis karya ilmiah bidang penelitian tanah longsor berdasarkan klasifikasi yang disesuaikan dengan kata kunci yang digunakan. Meningkatnya jumlah kejadian tanah longsor beberapa tahun belakangan erat kaitannya dengan perkembangan informasi dan perkembangan jumlah penelitian tanah longsor dalam bidang sains dan teknik. Dengan pemaparan kata kunci dan co-citation terkait artikel dapat ditemukan kebaruan dari topik yang akan diteliti selanjutnya sebagai pengembangan penelitian terkait tanah longsor. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free G-Tech Jurnal Teknologi Terapan Volume 7, No. 1 Jauari 2023, hal. 247-254 E-ISSN 2623-064x P-ISSN 2580-8737 This is an open access article under the CC BY license Tren Penelitian Tanah Longsor di Indonesia Rentang Tahun 2011-2021 Berdasarkan Analisis Bibliometrik Meli Muchlian1🖂, Leli Honesti2 1,2 Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Institut Teknologi Padang, Indonesia Riwayat Artikel Diserahkan 13-12-2022 Direvisi 25-12-2022 Diterima 30-12-2022 Indonesia merupakan negara dengan risiko bencana tanah longsor yang tinggi disebabkan faktor iklim dan cuaca yang mendominasi lebih dari 90%. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis secara bibliometrik terhadap topik tanah longsor di Indonesia berdasarkan bidang ilmu sains dan teknik. Penelitian ini terdiri atas tiga tahapan yaitu 1 pengumpulan data penelitian; 2 memvisualisasikan bibliografi yang diperoleh pada tahap pertama; dan 3 analisis hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis blibiometrik dapat digunakan untuk menganalisis karya ilmiah bidang penelitian tanah longsor berdasarkan klasifikasi yang disesuaikan dengan kata kunci yang digunakan. Meningkatnya jumlah kejadian tanah longsor beberapa tahun belakangan erat kaitannya dengan perkembangan informasi dan perkembangan jumlah penelitian tanah longsor dalam bidang sains dan teknik. Dengan pemaparan kata kunci dan co-citation terkait artikel dapat ditemukan kebaruan dari topik yang akan diteliti selanjutnya sebagai pengembangan penelitian terkait tanah longsor. Tanah Longsor, Tren, Bibliometrik, Co-Citation Indonesia has a high risk of landslides because climate and weather factors dominate more than 90%. This study aims to analyze the landslide topic in Indonesia using bibliometrically based on science and engineering fields. This research consists of three stages, namely 1 research data collection; 2 visualizing the bibliography obtained in the first stage; and 3 analysis of research results. The study results show that bibliometric analysis can be used to analyze scientific works in landslide field research based on the classification adjusted to the keywords. The increasing number of landslide events in recent years is closely related to the development of information and the number of landslide research in science and engineering. With the exposure of keywords and co-citations related to the article, new topics are to be studied further as the development of research related to landslides. Landslide, Trend, Bibliometric, Co-Citation Corresponding Author Meli Muchlian Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Institut Teknologi Padang, Indonesia Jl. Gajah Mada, Kec. Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat 25173 Email melimuchlian PENDAHULUAN Tanah longsor merupakan bencana yang disebabkan oleh interaksi kompleks dari beberapa faktor, termasuk proses dinamis, variabel kondisi tanah dan gangguan antropogenik Zhou dkk., 2013. Tanah longsor merupakan bencana yang menyebabkan hilangnya nyawa manusia yang jumlahnya termasuk banyak secara global Petley, 2012. Bencana tanah longsor telah mengakibatkan gangguan terhadap aktivitas manusia, kerusakan infrastruktur dan Meli Muchlian DOI Tren Penelitian Tanah Longsor … pemutusan moda transportasi yang mempengaruhi kegiatan ekonomi Bruggers dkk., 2011; Dijkstra dkk., 2014. Terdapat dua metoda yang dapat dilakukan untuk mengurangi penyebab dan akibat dari bencana tanah longsor yaitu metode struktural dan metode non struktural. Metode struktural di antaranya perhitungan stabilitas lereng, pengaturan drainase, perbaikan vegetasi dan pembuatan dinding penahan lereng Chakraborty & Goswami, 2018. Metode nonstruktural di antaranya peringatan dini, perencanaan penggunaan lahan, rute pelarian dan manajemen keadaan darurat Abeykoon dkk., 2018; Motsi dkk., 2019. Dalam beberapa kondisi terkadang kedua metode tersebut digunakan secara bersamaan. Tinjauan kepustakaan yang terstruktur akan memudahkan penulis dalam mengeksplorasi sebaran topik penelitian, memilih masalah yang akan diangkat, mengevaluasi kontribusi dan mensintesis data yang diperoleh untuk digunakan pada bidang ilmu tertentu Keathley-Herring dkk., 2016. Analisis bibliometrik dapat digunakan untuk mengevaluasi hasil-hasil jurnal ilmiah atau memahami struktur intelektual dari berbagai bidang ilmu Gaviria-Marin dkk., 2018. Hasil penelitian dengan topik tanah longsor telah dipublikasikan di sejumlah besar tulisan di dunia. Penelitian bibliometrik bertujuan untuk meringkas tren penelitian tentang tanah longsor secara global dan sebagai petunjuk untuk penelitian selanjutnya. Analisis bibliometrik telah diterapkan pada artikel-artikel terkait tanah longsor dari database Science Citation Index-Expanded SCIE dan Social Sciences Citation Index SSCI selama periode 1991-2014 Wu dkk., 2015. Analisis bibliometrik tentang jenis-jenis tanah longsor dari data United States Geological Survey USGS melalui database SCOPUS juga telah dilakukan menggunakan perangkat lunak VOSviewer versi Carrión-Mero dkk., 2021. Berbagai penelitian terkait tanah longsor yang ditinjau di Indonesia telah banyak dipublikasikan baik secara nasional maupun internasional. Secara nasional data kejadian bencana tanah longsor dapat diakses melalui situs BNPB, 2021. Jumlah kejadian tanah longsor di Indonesia selama rentang 10 tahun terakhir memiliki tren yang meningkat Muchlian dkk., 2022. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis bibliometrik terhadap tanah longsor di Indonesia berdasarkan bidang ilmu sains dan teknik. Dengan analisis tersebut dapat dipetakan bentuk sebaran tinjauan ilmiah tanah longsor yang memungkinkan peneliti selanjutnya untuk melihat pendekatan baru pada ruang lingkup penelitian terkait tanah longsor di Indonesia. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif. Analisis bibliometrik digunakan dalam penelitian ini digunakan untuk menyaring dan mengelompokkan penelitian tanah longsor. Secara umum penelitian ini terdiri atas tiga tahapan. Tahap pertama yaitu pengumpulan data penelitian. Tahapan penelitian ini menggunakan perangkat lunak Publish or Perish 7 dengan sumber karya ilmiah dari basis data google scholar. Jenis publikasi yang digunakan adalah jurnal, prosiding dan tesis. Kata kunci yang digunakan adalah “tanah longsor” dan “lereng” dengan rentang tahun yang dibatasi dari 2011 sampai 2021. Artikel yang telah dikumpulkan selanjutnya disortir berdasarkan bidang rumpun ilmu sains dan teknik, selanjutnya diunduh dalam format RIS Reasearch Information Systems dan format .csv yang dikonversi dalam format microsoft excel untuk mengelompokkan berdasarkan tahun penerbitan. Tahap kedua adalah memvisualkan bibliografi yang diperoleh pada tahap pertama. Perangkat lunak yang digunakan adalah VOSviewer Dokumen jurnal, prosiding dan tesis yang telah disimpan dalam format RIS digunakan secara bersamaan untuk menghasilkan visualisasi jaringan penelitian berdasarkan kata kunci dan visualisasi jaringan penelitian berdasarkan co-citation. Dalam prosesnya penelitian tunggal yang tidak memiliki jaringan penelitian diabaikan dan hasil visualisasi jaringan yang telah dihasilkan disimpan dalam format .jpg. Tahap ketiga adalah analisis hasil penelitian. Data visualisasi hasil penelitian tahap 2 dianalisis untuk membaca bagaimana sebaran kluster penelitian tanah longsor terkait kata kunci Meli Muchlian DOI Tren Penelitian Tanah Longsor … dan co-citation yang telah dihasilkan. Analisis yang dihasilkan dapat digunakan untuk mementukan kebaruan dalam topik penelitian tanah longsor selanjutnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Sepanjang tahun 2011 sampai 2021 topik penelitian tanah longsor dengan kata kunci tanah longsor dan lereng dalam bidang sains dan teknik menghasilkan 357 dokumen yang terdiri dari jurnal, prosiding dan tesis. Selama periode tersebut berbagai topik tentang tanah longsor dan lereng ditinjau dari berbagai sisi dalam bidang sains dan teknik. Setiap tahunnya jumlah artikel yang dihasilkan mengalami peningkatan, ini sebanding dengan jumlah kejadian bencana tanah longsor di Indonesia yang juga mengalami tren yang naik sehingga dapat dibuat hubungan bahwa kejadian tanah longsor memiliki masalah yang penting untuk dicarikan solusinya. Perkembangan jumlah dokumen setiap tahunnya dipaparkan pada Gambar 1. Gambar 1. Pertumbuhan jumlah karya ilmiah tentang tanah longsor Konstruksi peta bibliometrik tergantung pada apa yang ditetapkan dalam metodologi. Gambar 2 menunjukkan kata kunci yang digunakan penulis di Indonesia. Terdapat ada kesamaan penggunaan kata kunci dan menghasilkan lima 5 kelompok pengelompokan berdasarkan warna yang sama. Kata kunci yang digunakan pada kluster pertama merah yaitu landslide, slope, slope stability, stability, study. Kelompok ke dua hijau menggunakan kata kunci air, analisis, batuan penyusun lereng, jalan dan massa tanah. Kelompok ke tiga biru menggunakan kata kunci air tanah, dimensi, kestabilan lereng, longsoran lereng dan muka air tanah. Kelompok ke empat kuning menggunakan kata kunci analysis, area, Indonesia, probabilitas dan soil. Kelompok ke lima ungu menggunakan kata kunci bencana tanah, kabupaten dan mitigasi bencana. Analisis co-citation dapat digunakan untuk mengeksplorasi hubungan antar dokumen, mengetahui basis pengetahuan dan struktur perkembangan suatu bidang ilmu. Ketika sebuah dokumen sering dikutip dalam sebuah publikasi lainnya, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat, sehingga memudahkan dalam mempertimbangkan artikel tersebut dalam bidang penelitian yang sama, namun dalam situasi tertentu bisa juga sebaliknya. Gambar 3 menunjukkan jaringan penulis bersama menggunakan perangkat lunak VOSviewer Jaringan yang terbentuk mewakili nama penulis, terkait topik dan bidang keahlian. Jaringan peneliti tersaji dalam dua belas 12 kelompok, dengan 37 penulis dengan 2 kutipan bersama. Kelompok 1 warna merah terdiri dari 7 penulis. Studi dalam kelompok ini fokus pada area penelitian tanah longsor terkait risiko tanah longsor, nilai faktor aman lereng dan kestabilan lereng Albar dkk., 2021; Amrullah dkk., 2019; Giffari dkk., 2020; Prasetyo dkk., 2020; Rusni dkk., Meli Muchlian DOI Tren Penelitian Tanah Longsor … 2019; Sophian & Muslim, 2018. Penelitian ini bisa digolongkan pada penelitian tentang kestabilan lereng karena masih berfokus pada analisis awal. Kelompok 2 warna hijau terdiri dari 5 penulis. Studi dalam kelompok ini berfokus pada pengaruh muka air tanah, getaran dan Geological Strength Index GSI terhadap stabilitas lereng Aulia dkk., 2019; Sophian & Muslim, 2018; Vickyla dkk., 2019. Penelitian pada kelompok ini mulai mengunakan kata pengaruh faktor terhadap stabilitas lereng. Namun faktor yang dimaksud masih dari internal tanah lereng tersebut. Kelompok 3 warna biru terdiri dari 4 penulis. Studi dalam kelompok ini berfokus pada pengaruh intensitas curah hujan dan beban gempa terhadap stabilitas lereng, mengkaji jenis tanah vulkanik dan batuan potensi tanah longsor yang terjadi Darajaat dkk., 2020; Iqbal dkk., 2020; Permana dkk., 2020; Widisaputra dkk., 2020. Penelitian pada kelompok ini mulai mengunakan faktor luar dan uji dan analisis pada tanah lereng. Kelompok 4 warna kuning terdiri dari 4 penulis. Studi dalam kelompok ini berfokus pada nilai koefisien gempa horizontal terhadap keamanan lereng dan pemetaan zona kerentanan tanah longsor Hassanusi dkk., 2021; Shobari dkk., 2019. Penelitian pada kelompok ini mulai mengunakan faktor yang lebih spesifik terhadap keamanan lereng. Gambar 2. Visualisasi jaringan kata kunci dengan menetapkan warna untuk setiap kluster Gambar 3. Visualisasi jaringan co-citation pada setiap kluster Meli Muchlian DOI Tren Penelitian Tanah Longsor … Pengelompokan berikutnya kelompok 5 warna ungu yang terdiri dari 4 penulis. Studi dalam kelompok ini berfokus pada pengaruh muka indeks geomorfik, air tanah dan beban gempa yang dikaitkan dengan faktor keamanan lereng Muslim dkk., 2021; Nugraha dkk., 2020; Ramadhian dkk., 2019. Penelitian pada kelompok ini masih memiliki kemiripan dengan kelompok 3 sebelumnya. Kelompok 6 warna biru muda terdiri dari 3 penulis. Studi dalam kelompok ini berfokus pada perancangan lereng yang stabil Purwaningsih dkk., 2020; Sidiq dkk., 2017. Penelitian pada kelompok ini merupakan kelanjutan dari penelitian pada kelompok 1 sampai 5. Kelompok 7 warna jingga terdiri dari 3 penulis. Studi dalam kelompok ini berfokus pada kajian geologi tanah longsoran pegunungan. Kelompok 8 warna jingga terdiri dari 2 penulis. Studi dalam kelompok ini berfokus pada kajian evaluasi kestabilan lereng Aprilia dkk., 2019. Kelompok 9 warna merah muda terdiri dari 2 penulis. Studi dalam kelompok ini berfokus pada kajian perencanaan lereng bangunan air Aulia dkk., 2019. Kelompok 10, 11 dan 12 masing-masing terdiri dari 1 penulis yang tinjauan masih terkait stabilitas lereng Pradana, 2013; Putranto dkk., 2019; Yusripar dkk., 2021. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Analisis blibiometrik dapat digunakan untuk menganalisis karya ilmiah bidang penelitian tanah longsor berdasarkan klasifikasi yang disesuaikan dengan kata kunci yang digunakan. Hal ini membantu dalam eksplorasi dan analisis struktur penelitian yang dipublikasikan di Indonesia. Meningkatnya jumlah kejadian tanah longsor beberapa tahun belakangan erat kaitannya dengan perkembangan informasi dan perkembangan jumlah penelitian tanah longsor dalam bidang sains dan teknik. Dengan pemaparan kata kunci dan co-citation terkait artikel dapat ditemukan kebaruan dari topik yang akan diteliti selanjutnya sebagai pengembangan penelitian terkait tanah longsor. Saran Analisis blibiometrik dapat digunakan untuk menganalisis perkembangan topik penelitian. Pengembangan untuk penelitian berikutnya adalah menggunakan kata kunci yang lebih spesifik untuk skala internasional pada penelitian terkait tanah longsor. Dengan demikian, bisa digunakan untuk menentukan kebaruan novelty penelitian berikutnya. REFERENSI Abeykoon, T., Gallage, C., Dareeju, B., & Trofimovs, J. 2018. Real-Time Monitoring and Wireless Data Transmission to Predict Rain-Induced Landslides In Critical Slopes. Australian Geomechanics Society, 53 3, 26. Albar, M., Zakaria, Z., & Sophian, R. 2021. Rasio Perubahan Nilai Faktor Keamanan Terhadap Perolehan Stripping Ratio pada Tambang Batubara. Geoscience Journal. Amrullah, M., Zakaria, Z., & Sophian, R. 2019. Optimisasi Kestabilan Lereng Tunggal Lapisan Overburden Rencana Tambang Mahayung Dengan Pendekatan Probabilistik. Aprilia, J., Muslim, D., Zakaria, Z., & Tedy, O. 2019. Evaluasi Kestabilan Lereng Tambang Batubara PIT “XY” menggunakan Metode Kesetimbangan Batas PT. BUKIT ASAM Tbk. Geoscience Journal. Aulia, S., Zakaria, Z., & Shopian, R. 2019. Pengaruh Getaran Terhadap Kestabilan Lereng Untuk Rencana Pembangunan Embung di Daerah Desa Cileles, Jatinangor. Geoscience Journal. BNPB. 2021. Data Informasi Bencana Indonesia. Meli Muchlian DOI Tren Penelitian Tanah Longsor … Bruggers, D., Skinner, R., & Rudolph, R. W. 2011. Landslide Mitigation at Eden Canyon Road in Alameda County, California. C, 3706–3715. Carrión-Mero, P., Montalván-Burbano, N., Morante-Carballo, F., Quesada-Román, A., & Apolo-Masache, B. 2021. Worldwide Research Trends in Landslide Science. International Journal of Environmental Research and Public Health, 1818, Art. 18. Chakraborty, A., & Goswami, D. 2018. Three-dimensional 3D slope stability analysis using stability charts. International Journal of Geotechnical Engineering, 15. Darajaat, M., Iqbal, P., Zakaria, Z., & Muslim, D. 2020. Pengaruh Intensitas dan Durasi Hujan Terhadap Kestabilan Lereng Tanah Residual Vulkanik di Jalur Liwa-Kemuning, Lampung. Geoscience Journal. Dijkstra, T., Dixon, N., Crosby, C., Frost, M., Gunn, D., Fleming, P., & Wilks, J. 2014. Forecasting infrastructure resilience to climate change. Proceedings of the Institution of Civil Engineers - Transport, 1675, 269–280. Gaviria-Marin, M., Merigo, J. M., & Popa, S. 2018. Twenty years of the Journal of Knowledge Management A bibliometric analysis. Journal of Knowledge Management, 228, 1655–1687. Giffari, F., Zakaria, Z., & Sophian, R. 2020. Kajian Kestabilan Lereng Highwall dengan Metode Kesetimbangan Batas dan Probabilistik pada PIT Muara Tiga Besar Utara PT. Bukit Asam Tbk. Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Geoscience Journal. Hassanusi, A., Muslim, D., & Khoirullah, N. 2021. Zona Kerentanan Gerakan Tanah Berdasarkan Metode Indeks Storie Pada Daerah Gajahmungkur dan Sekitarnya, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Geoscience Journal. Iqbal, P., Muslim, D., Zakaria, Z., & Permana, H. 2020. Geotechnical characteristics of volcanic red clay soil related to geoengineering problem in sekincau, sumatra, Indonesia. International Journal of …. Keathley-Herring, H., Van Aken, E., Gonzalez-Aleu, F., Deschamps, F., Letens, G., & Orlandini, P. C. 2016. Assessing the maturity of a research area Bibliometric review and proposed framework. Scientometrics, 1092, 927–951. Motsi, P. K., Mapekula, L., Kalumba, D., & Chibvura, C. 2019. Slope Stability Monitoring and Early-Warning System for Kariba Dam South Bank Slope. Geo-Congress 2019, 86–95. Muchlian, M., Honesti, L., & Roza, A. 2022. Analisis Trend Risiko Bencana Tanah Longsor di Indonesia. Seminar Nasional Riset & Inovasi Teknologi, 11, Art. 1. Muslim, G., Muslim, D., & Zakaria, Z. 2021. Asosiasi Indeks Geomorfik dengan Karakteristik Gerakan Tanah pada Daerah Liwa dan Sekitarnya, Kabupaten Lampung Barat, Indonesia. Geoscience Journal. Nugraha, A., Zakaria, Z., & Muslim, D. 2020. Pengaruh Muka Airtanah dan Beban Getaran terhadap Faktor Keamanan Lereng Studi Kasus Lereng di Citatah, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Geoscience Journal. Meli Muchlian DOI Tren Penelitian Tanah Longsor … Permana, R., Buana, A., & Akmam, A. 2020. Using the Schlumberger configuration resistivity geoelectric method to estimate the rock structure at landslide zone in Malalak agam. Petley, D. 2012. Global patterns of loss of life from landslides. Geology, 4010, 927–930. Pradana, B. 2013. Analisis Kestabilan Lereng pada Perencanaan Pembangunan Tanggul Kali Semarang, Jawa Tengah. Prasetyo, M., Zakaria, Z., & Sophian, R. 2020. Hubungan Tinggi dan Sudut Lereng Terhadap Potensi Longsor Yang Diindikasikan Oleh Faktor Keamanan pada Lereng Tunggal. Geoscience Journal. Purwaningsih, R., Sophian, R., & Mulyo, A. 2020. Desain Lereng Stabil Dengan Menggunakan Metode Probabilistik Pada Low Wall Pit Y, PT. Pamapersada Nusantara Site Kideco, Kalimantan Timur. Query date 2022-12-10 084433. Putranto, D., Zakaria, Z., & Muslim, D. 2019. Penilaian Resiko Longsor untuk Stabilitas Lereng berdasarkan Metode Probabilitas Monte Carlo Studi Kasus Lingkar 3, Tambang Air Laya, Kecamatan Lawang Kidul, Muara Enim, Sumatra Selatan. Geoscience Journal. Ramadhian, R., Zakaria, Z., Muslim, D., & ... 2019. Pengaruh Muka Air Tanah terhadap Sudut Lereng Stabil pada PIT “X” PT. Borneo Indobara, Kalimantan Selatan. Rusni, S., Sophian, R., & Zakaria, Z. 2019. Probabilitas Longsor Pada Lereng Tambang Batubara Terbuka Sisi Sidewall Selatan Pit X, Kalimantan Selatan. Geoscience Journal, Query date 2022-12-10 084433. Shobari, A., Jabbari, M. I., & Khoirullah, N. 2019. Hubungan Nilai Koefisien Gempa Horizontal Kh Dengan Nilai Safety Factor Fs Daerah Cilengkrang, Jawa Barat. Sidiq, M., Zakaria, Z., & Mulyo, A. 2017. Rancangan Terasering untuk Stabilisasi Lereng pada Tambang Nikel Laterit. Geoscience Journal. Sophian, R., & Muslim, D. 2018. Pengaruh Geological STrength Index GSI Terhadap Nilai Faktor Keamanan Melalui Simulasi Kestabilan Lereng Tambang, Kecamatan Batu Kajang, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Geoscience Journal. Vickyla, M., Sophian, I., & Muslim, D. 2019. Pengaruh Muka Air Tanah terhadap Kestabilan Lereng Tambang X. Geoscience Journal. Widisaputra, R., Zakaria, Z., Sophian, R., & Iqbal, P. 2020. Pengaruh Beban Gempa terhadap Kestabilan Lereng Tanah Daerah Liwa dan Sekitarnya, Kabupaten Lampung Barat, Lampung. Query date 2022-12-10 084433. Wu, X., Chen, X., Zhan, F. B., & Hong, S. 2015. Global research trends in landslides during 1991–2014 A bibliometric analysis. Landslides, 126, 1215–1226. Yusripar, M., Muslim, D., & Zakaria, Z. 2021. Pengaruh Tinggi Muka Air Tanah dan Getaran Kendaraan terhadap Kestabilan Lereng Studi Kasus Lereng Spillway Proyek Bendungan Meli Muchlian DOI Tren Penelitian Tanah Longsor … Ciawi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Geoscience Journal. Zhou, J., Cui, P., & Yang, X. 2013. Dynamic process analysis for the initiation and movement of the Donghekou landslide-debris flow triggered by the Wenchuan earthquake. Journal of Asian Earth Sciences, 76, 70–84. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this are generated by natural causes and by human action, causing various geomorphological changes as well as physical and socioeconomic loss of the environment and human life. The study, characterization and implementation of techniques are essential to reduce land vulnerability, different socioeconomic sector susceptibility and actions to guarantee better slope stability with a significant positive impact on society. The aim of this work is the bibliometric analysis of the different types of landslides that the United States Geological Survey USGS emphasizes, through the SCOPUS database and the VOSviewer software, for the analysis of their structure, scientific production, and the close relationship with several scientific fields and its trends. The methodology focuses on i search criteria; ii data extraction and cleaning; iii generation of graphs and bibliometric mapping; and iv analysis of results and possible trends. The study and analysis of landslides are in a period of exponential growth, focusing mainly on techniques and solutions for the stabilization, prevention, and categorization of the most susceptible hillslope sectors. Therefore, this research field has the full collaboration of various authors and places a significant focus on the conceptual evolution of the landslide study of physical, mechanical, and mineralogy characterization of volcanic red clay soil in the Sekincau Sub-District, West Lampung, Indonesia to obtain the genetic and soil engineering characterization related to the geoengineering problem. The method of this study is the Geotechnical laboratory method, XRD, and SEM method. The results of the analysis show that the volcanic red clay soil in the study area is residual soil produced from the weathering of volcanic rocks composed of felsic minerals in tropical environments. This soil is clayey silt MH, loose, easily eroded, has the specific gravity water content water saturation porosity the liquid limit value of a plasticity index value of permeability has cohesion less than 1 Mpa, and an internal friction less than < 30 o. Quartz, halloysite, kaolinite, and montmorillonite are the clay minerals that can be found in this soil. It can be concluded that volcanic red clay soil in the study area is easy to landslide during the rainy deformation processes observed on slow moving landslides are attributed to non-uniform shear surfaces, hydrogeology, rock mass heterogeneity, and uncertainties associated in the determination of the predominant slope failure mechanisms. Effective early warning systems must have a good monitoring system and be designed on sound scientific and mathematical principles. Social, environmental, and economic implications of impending disaster should motivate and determine the accuracy of these systems. Analysis was made of points to consider in designing a monitoring and early warning system for the active landslide on Kariba Dam south bank slope. These considerations included geological conditions, landslide kinematics, and risk scenarios. Displacement and deformation threshold definitions that allow enough time for evacuation of wild life and people that live downstream Kariba Dam are paramount. Potential landslide triggers, that are useful in threshold definition, were identified. The existing monitoring system was modified to take into account strain rates in critical sections of the slope. It will take both a well-designed system and easy to implement evacuation procedure to protect the populace that is susceptible to the imminent In 2017, the Journal of Knowledge Management JKM celebrates its 20th anniversary. This study aims to show an updated analysis of their publications to provide a general overview of the journal, focusing on a bibliometric analysis of its publications between 1997 and 2016. Design/methodology/approach The methodology involves two procedures a performance analysis and a science mapping analysis of JKM. The performance analysis uses a series of bibliometric indicators such as h-index, productivity and citations. This analysis considers different dimensions, including papers, authors, universities and countries. VOSviewer software is used to carry out the mapping of science of JKM, which, based on the concurrence of key words and co-citation points of view, seeks to graphically analyze the structure of the references of this journal. Findings There is a positive evolution in the number of publications although with certain oscillations, which shows a growing interest in publishing in JKM. The USA and the UK lead the publications in this journal, although at a regional level, Europe is the most productive. The low participation of emerging economies in JKM is also observed. Practical implications The paper will identify the leading trends in the journal in terms of papers, authors, institutions, countries, journals and keywords. This study is useful for obtaining a quick snapshot of what is happening in the journal. Originality/value From the historical record of JKM publications, this study presents an exclusive bibliometric analysis of its publications until 2016 and identifies its main of slopes is a very serious issue in the field of geotechnical engineering. The analysis and design of failing slopes requires a thorough knowledge of the failure mechanism in order to choose the right slope stability analysis method. The two-dimensional 2D slope stability methods are very common to the engineers because of the simplicity in their assumptions. As a result the analysis results vary greatly between the different analysis methods. The importance of three-dimensional 3D slope stability analysis greatly increased where the geometry of the problem becomes complex which makes it very difficult to solve using 2D analysis. A lot many 2D slope stability methods were extended to 3D methods since 1970s based on limit equilibrium LE and finite element approaches. In this paper, slopes were analysed using 3D limit equilibrium method LEM using SLIDE3 software having different geometry and soil parameters and finally stability charts were prepared to calculate the FOS of the slopes. It is found that the slope stability factor can be read from the stability charts without the need for recent years, many disciplines have begun to adopt more systematic and standardized approaches to evaluate the impact and development of a research area with a stronger emphasis on quantitative techniques. In particular, identifying and analyzing the published literature have become important exercises for many disciplines and methods such as systematic literature review and bibliometric analysis have become more regularly used to obtain a deeper understanding of a research area. One concept that is of particular interest is the maturity, or level of development, of a research area. While this concept has been mentioned in many works, it has not yet been formalized, resulting in a lack of consensus concerning the definition of research area maturity and analysis techniques to assess maturity. Therefore, most assessments of research area maturity consider only a subset of the possible criteria with significant differences in the metrics and analyses used among different disciplines. Due to the inconsistencies in the definition and assessment of this concept, a comprehensive synthesis of this literature area is needed. This paper presents the results of a study to identify and analyze the literature, define the maturity of a research area, and synthesize the criteria for assessing maturity. The results are used to develop a generalized maturity assessment framework that establishes a comprehensive set of criteria, which can be adapted for use across a variety of research WuXueye ChenF. Benjamin ZhanSong HongA bibliometric analysis was conducted to evaluate landslide research from different perspectives during the period 1991–2014 based on the Science Citation Index-Expanded and Social Sciences Citation Index databases. Based on a sample of 10,567 articles that were related to landslides, the bibliometric analysis revealed the scientific outputs, science categories, source titles, global geographical distribution of the authors, productive authors, international collaborations, institutions, and temporal evolution of keyword frequencies. Landslide-related research has undergone notable growth during the past two decades. Multidisciplinary Geosciences, Geological Engineering, and Water Resources were the three major science categories, and Geomorphology was the most active journal during the surveyed period. The major author clusters and research regions are located in North America, Western Europe, and East Asia. The USA was a leading contributor to global landslide research, with the most independent and collaborative articles, and its dominance was also confirmed in the national/regional collaboration network. The Chinese Academy of Sciences, US Geological Survey, and Italian National Research Council were the three major contributing institutions. Guzzetti F from the Italian National Research Council was the most productive author, with the most high-quality articles. A keyword analysis found that landslide susceptibility assessment, rainfall- and earthquake-induced landslide stability, and effective research technologies and methods were consistent topics that attracted the most attention during the study period. Several keywords, such as “landslide susceptibility”, “earthquake”, “GIS”, “remote sensing”, and “logistic regression”, received dramatically increased attention during the study period, possibly signalling future research Donghekou landslide-debris flow was a remarkable geological disaster triggered by the Wenchuan earthquake in 2008. The dynamic process of a rapid landslide-debris flow is very complicated and can be divided into two aspects the slope dynamic response of the earthquake and the mass movement and accumulation process. A numerical method combined with a finite difference method FDM and discrete element method DEM for simulation of landslide-debris flow under seismic loading is presented. The FDM and DEM are coupled through the critical sliding surface, initiation time and velocity. The dynamic response of the slope is simulated by the finite difference method, and critical sliding surface is determined using the earthquake response spectrum method. The landslide initiation time and the velocity are determined by time-history analysis. The mass movement and accumulation process is simulated using the discrete element method. Simulation results demonstrate that the maximum amplification coefficient of dynamic acceleration for the Donghekou slope is approximately the initiation time of landslide is approximately s, and the average initial velocity of the sliding mass is approximately m/s. The failure of the slope is the result of elevation-orientated amplification effect and the sliding mass triggered with a small initial velocity. The numerical simulated result of the maximum sliding velocity is approximately m/s, and the mass is disintegrated rapidly because of collision and free fall. The landslide velocity decreases when the flowing mass reaches a lower slope angle and gradually comes to a stop, and the total travel distance is approximately 2400 N. PetleyGlobal loss of life from landslides is poorly quantified. A global data set of fatalities from nonseismically triggered landslides that resulted in loss of life between 2004 and 2010 permits for the first time proper quantification of impacts and spatial distributions. In total, 2620 fatal landslides were recorded worldwide during the 7 yr period of the study, causing a total of 32,322 recorded fatalities. These total numbers of landslides and victims are an order of magnitude greater than other data sets have indicated, but analysis of the data suggests that it may still slightly underestimate the true human costs. The majority of human losses occur in Asia, especially along the Himalayan Arc and in China. This geographical concentration dominates the annual landslide cycle, which peaks in the Northern Hemisphere summer months. Finally, numbers of fatalities per event show a fat-tailed power law distribution, with the density of landslides being moderately correlated with the population density on a national BruggersR. SkinnerR. William RudolphThe Eden Canyon Road landslide is a deep-seated, 150-m 500-ft long, 50-m 160-ft wide landslide that affected approximately 50 m 160 ft of roadway. The slide, activated by heavy rainfall during winter 2006, was consequently evaluated through field exploration, including drilling and sampling of test borings, downhole logging of 60-cm 24-in diameter borings, and installing an inclinometer. The slide plane was estimated to be at a depth of 12 m 40 ft below the roadway. Upslope, numerous areas of seepage were observed within the landslide area and slow seepage was observed from the sidewalls of the borings. Groundwater was observed in the exploratory borings at depths of about 6 m 20 ft. The active landslide was associated with the reactivation of a portion of an older, dormant landslide. Complete repair of the active landslide was ruled out for several reasons. Mitigation included horizontal drains up to 185 m 600 ft long and a gravity buttress. The gravity buttress was an innovative system of counterfort subsurface walls of overlapping drilled shafts that were filled with cast-in-place concrete. The drilled shafts were approximately 1 m 3 ft in diameter and extended from about m 5 ft below the roadway surface to a depth of at least 3 m 10 ft below the base of the landslide.
report text about tanah longsor